Si Gadis Malang Bag.2
Cinta bagiku bukan lagi Bullshit.
Tapi adalah saling membuka diri. Tapi kenyataannya aku tak membuka diri.
Hufth...... sekarang aku naik kelas XI. Jika dulu aku angggap di “cie”adalah
bencana maka sekarang adalah uncak dari bencana itu... BTW, aku Paling benci di
“cie”in kalo dulu karena mereka salah besar sekarang justru mereka sangat
benar. Huuaaaahhhhh......
Kelasku dengan dia sekarang
terpisah dan saling berhadapan dengan satu kelas IPA. Di depan tiap kelas itu
ada kursi panjang yang nikmat untuk nongkrong. Baik itu cowok atau cewek. Saat
istirahat aku hampir selalu berdiam di kelas dengan sengaja membuat kesibukan.
Dan terkadang jika sang Khalik menghendaki maka dia Si Gadia Malang masuk ke
kelasku dengan beberapa alasan yang penting sampai yang nggak mesti terjadi.
Tingkahnya buatku makin paham akan dirinya.
Seperti biasa, Ishoma. Istirahat
sholat makan. Selesai itu pintu neraka terbuka. Haaaa. Aku berjalan ke Gedung
pendidikan. Pura-pura melihat mading mata melirik ke kursi di depan kelas,
ternyata banyak wanita di sana. Aduh gusti.... ambil aku tuhan..... mereka
semua satu geng namanya Oppa “cie ” style....... dengan membusungkan dada
memantapkan hati aku berderap kesana. ... waduh disana Si Gadis Malang ada
juga. Mau gimana lagi mereka udah liat
aku duluan. Terpaksa langkah dilanjutkan. Mereka diam dan mata mereka saling
bertemu dan bertukar pesan dengan mata. 6 langkah mereka selesai berkomunikasi
mata. 5 mata Si Gadis Malang mengerti ada apa dan merapatkan diri. 4 langkah mereka
mebetulkan posisi duduk agar suara dapat lancar keluar. 3 langkah mereka check
suara dengan Ehem..Ehem..!! dan sebangsanya. 2 langkah satu orang mulai nge-tag
namaku dan namanya Si Gadis Malang. Dan yang lainnya menarik napas dalam-dalam.
1 langkah dan semua napas yang tertahan membaur menjadi satu dengan berbagai
variasi warna suara dengan satu topik utama adalah “cie” diimprove dengan
dengan cihuy.. dan batuk-batuk lagi. Aku hany bisa pasrah bagaikan bawang
bombay harus pasrah terhadap pertlakuan mereka. Ingin rasanya berlari. Aku
marah, aku emosi, aku benci, aku muak, darah, aku ingin ada pertumpahan darah,
darah mereka. Tapi semuanya hilang saat langkahu tepat di depan dia Si Gadis
Malang. Raut wajahnya memberikan pesan. Dan aku kembali tertunduk dalam hati
dan masuk ke kelas.
Habis ishoma kenyang nggak lapar
lagi malah. Tapi itulah realita kehidupan. Setelah semuanya rasa mulai timbul
tapi aku takut terlalu berharap hingg akhirnya akan jatuh jua.. tapi mulai
sekarang harus aku perjelas. Harus... harus....