Si Gadis Malang bag.1.
Cinta bagiku adalah bullshit. Aku
termasuk orang yang mudah memberi cinta. Tapi aku tak pernah mendapat apa yang
selalu berusaha ku beri. Cinta tak pernah datang untukku, aku juga tak
mempermasalahkannya. Aku nggak mau memusingkan diri atas perasaan dengan ribuan
definisi itu.
Tapi, semua berubah saat negara
api menyerang..!!! membakar tiap inchi perasaanku, melepuhkan tiap syaraf di
otakku, mengikis insting membunuhku, membuatku lupa akan komitmen diri, buatku
mengetahui satu lagi perasaan selain marah, kecewa, sedih, bahagia dan lainnya.
Aku sulit mengingat sesuatu.
Tapi, jika telah kuingat maka takkan pernah lupa olehku. Aku ingat pelaku
pertama adalah sebut saja Bunga (nama asli). Dialah awal dari segalanya tapi
bukan dia pemeran utamanya.
Bagaimana rasanya saat kita di
tuduh mencuri padahal jelas-jelas kita tidak mencuri. Maka kita akan
menunjukkan reaksi anti-mencuri. Sama saat aku di tuduh suka padanya si Gadis
malang. Aku tidak mau. Tidak..tidak..tidak..
Padahal awalnya kita.. emm.. aku
cukup dekat dengannya sebagai teman. Tapi mulai menjauh karena rumor itu. Aku
nggak mau... tidak..tidak..tidak.. tapi ada pelaku lain.. Huuuuuu. Sebut saja
Rama (nama asli). Bagai kompor memanasi hati yang panas. Untuk menembak dia si
Gadis Malang, memakai surat. Dengan banyak permainan kata.
Esok harinya, langkah kian berat
menuju ke kelas.(saat itu aku kelas X MAN) Aku lupa dan nggak tahu mimik
seperti apa yang tercetak di wajahku. Tapi satu hal yang selalu kuingat......
tatapan dingin darinya.. sangat dingin... bagai air dengan suhu -59 derajat
Celcius tapi tetap berbentuk cair.
Hari-hari selanjutnya berjalan
dengan rasa malu yang sangat. Betapa tidak tanpa rasa apapun ke dia aku
menembaknya dan mungkin dia benci padaku. Akupun tidak tahu harus berbuat apa.
Yang kubisa hanya diam dan diam selalu dian dan diam. Hanya itu yang kupunya
untuk melindungi integritasku.
Suatu ketika, saat istirahat
berakhir aku ingin keluar kelas karena ada urusan. Dan berpapasan dengannya si
Gadis Malang di pintu kelas. Kejadian dengan waktu seperseribumilidetik bagiku
terasa 2 jam lebih lama. Karena, otakku sibuk mencerna raut wajahnya yang
................ .ingin ku tersenyum menyapa atau sekedar mengangguk untuk
menegur. Tapi, ku hanya diam dan berlalu tak menghiraukan kata “cie” dari
mereka yang melihat. Dan satu hal yang kutahu. Aku tahu maksud dari raut
wajahnya itu.
Sejak saat itu, semua
gerak-geriknya tak lepas dari pengamatanku. Sekali lagi... semuanya tak
terkecuali. Hingga aku tahu satu hal dia sangat berbeda denganku. Itulah yang
membuatku tertarik padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar