Minggu, 09 Desember 2012

Si Gadis Malang

Si Gadis Malang bag.1.
Cinta bagiku adalah bullshit. Aku termasuk orang yang mudah memberi cinta. Tapi aku tak pernah mendapat apa yang selalu berusaha ku beri. Cinta tak pernah datang untukku, aku juga tak mempermasalahkannya. Aku nggak mau memusingkan diri atas perasaan dengan ribuan definisi itu.
Tapi, semua berubah saat negara api menyerang..!!! membakar tiap inchi perasaanku, melepuhkan tiap syaraf di otakku, mengikis insting membunuhku, membuatku lupa akan komitmen diri, buatku mengetahui satu lagi perasaan selain marah, kecewa, sedih, bahagia dan lainnya.
Aku sulit mengingat sesuatu. Tapi, jika telah kuingat maka takkan pernah lupa olehku. Aku ingat pelaku pertama adalah sebut saja Bunga (nama asli). Dialah awal dari segalanya tapi bukan dia pemeran utamanya.
Bagaimana rasanya saat kita di tuduh mencuri padahal jelas-jelas kita tidak mencuri. Maka kita akan menunjukkan reaksi anti-mencuri. Sama saat aku di tuduh suka padanya si Gadis malang. Aku tidak mau. Tidak..tidak..tidak..
Padahal awalnya kita.. emm.. aku cukup dekat dengannya sebagai teman. Tapi mulai menjauh karena rumor itu. Aku nggak mau... tidak..tidak..tidak.. tapi ada pelaku lain.. Huuuuuu. Sebut saja Rama (nama asli). Bagai kompor memanasi hati yang panas. Untuk menembak dia si Gadis Malang, memakai surat. Dengan banyak permainan kata.
Esok harinya, langkah kian berat menuju ke kelas.(saat itu aku kelas X MAN) Aku lupa dan nggak tahu mimik seperti apa yang tercetak di wajahku. Tapi satu hal yang selalu kuingat...... tatapan dingin darinya.. sangat dingin... bagai air dengan suhu -59 derajat Celcius tapi tetap berbentuk cair.
Hari-hari selanjutnya berjalan dengan rasa malu yang sangat. Betapa tidak tanpa rasa apapun ke dia aku menembaknya dan mungkin dia benci padaku. Akupun tidak tahu harus berbuat apa. Yang kubisa hanya diam dan diam selalu dian dan diam. Hanya itu yang kupunya untuk melindungi integritasku.
Suatu ketika, saat istirahat berakhir aku ingin keluar kelas karena ada urusan. Dan berpapasan dengannya si Gadis Malang di pintu kelas. Kejadian dengan waktu seperseribumilidetik bagiku terasa 2 jam lebih lama. Karena, otakku sibuk mencerna raut wajahnya yang ................ .ingin ku tersenyum menyapa atau sekedar mengangguk untuk menegur. Tapi, ku hanya diam dan berlalu tak menghiraukan kata “cie” dari mereka yang melihat. Dan satu hal yang kutahu. Aku tahu maksud dari raut wajahnya itu.
Sejak saat itu, semua gerak-geriknya tak lepas dari pengamatanku. Sekali lagi... semuanya tak terkecuali. Hingga aku tahu satu hal dia sangat berbeda denganku. Itulah yang membuatku tertarik padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar